Tuesday, May 2, 2017

KEBUTUHAN Atau KEINGINAN?




Kebanyakan orang tidak bisa membedakan antara KEBUTUHAN dan KEINGINAN. Sebagai contoh :

* Transportasi untuk pergi ke suatu tempat adalah kebutuhan, tetapi memilih apakah kita akan jalan kaki, naik kendaraan umum atau kendaraan pribadi itu sebuah keinginan.
* Alat transportasi mungkin sebuah kebutuhan bagi masyarakat tertentu. Tetapi pilihan membeli sepeda motor, Avanza, Inova atau Jaguar itu sebuah keinginan.
* Berobat saat sakit itu sebuah kebutuhan, tetapi memilih kelas 3 atau VIP itu keinginan. 
* Mengawinkan atau mengkhitankan anak itu sebuah kebutuhan, merayakan dengan sederhana atau besar-besaran itu keinginan.
* Rumah itu kebutuhan, tetapi model dan besarnya itu keinginan.

Kita boleh mengikuti keinginan dengan batasan tertentu, yaitu kemampuan keuangan yang kita miliki. Jika untuk mendapatkan keinginan itu sampai menghabiskan tabungan, mungkin bisa dikatakan sebagai kurang bijaksana. Jika sampai berhutang atau memakan modal usaha, maka seperti lagu Rhoma Irama, itu . . . . . TERLALU !!! . 

KESABARAN UNTUK MENUNDA KENYAMANAN, KEPINTARAN MEMILAH MANA KEBUTUHAN DAN MANA KEINGINAN ADALAH MODAL UTAMA SESEORANG UNTUK BISA SUKSES. BUKAN KETRAMPILAN BISNIS, MODAL BESAR ATAU PENDIDIKAN TINGGI YANG MEMBUAT SESEORANG BISA MENJADI SUKSES.

Tetapi itulah yang saat ini sedang membelenggu sebagian masyarakat. Mereka kurang sabar untuk “segera tampil” menjadi nampak kaya. Walaupun belum memiliki uang yang cukup, mereka sudah berani membeli motor secara kredit (hutang), merayakan perkawinan atau sunatan dengan cara berhutang. Mereka bahkan menjual sawah atau sarana produksi yang lain seperti ternak, hanya untuk dibelikan sesuatu yang membuat mereka “nampak kaya”. Setelah itu karena sudah tidak memiliki aset (sesuatu yang menghasilkan uang) dan justru masih punya hutang. Padahal, kalau saja mau bersabar sedikit, menunda menikmati “kemewahan” itu, mereka bukan hanya “nampak kaya”, tetapi akan menjadi benar-benar kaya dan menikmatinya untuk selamanya. Misal seseorang memiliki 10 ekor kambing, karena bujukan kanan kiri, mereka ‘royalan’ saat merayakan perkawinan anaknya. Dengan menanggap orkes dan sebagainya, akhirnya 10 kambing tadi ludes. Padahal, seekor kambing rata-rata nilainya berlipat 2,5 x setiap tahunnya. Kalau dia menunda 2 tahun saja, 10 kambing tadi akan berkembang menjadi 10 x 2.5 x 2.5 = 62 ekor. Kalau setelah itu mau royalan atau membeli sesuatu dengan menjual 25 ekor, sisanya masih banyak dan bisa dikembangkan terus.

Kesabaran untuk menunda kenyamanan, kepintaran memilah mana kebutuhan dan mana keinginan adalah modal utama seseorang untuk bisa sukses. Bukan ketrampilan bisnis, modal besar atau pendidikan tinggi yang membuat seseorang bisa menjadi sukses.

No comments:

Post a Comment

untuk koment silakan bebas yang penting tidak mengandung SARA