Cari Blog Ini

Memuat...

Selasa, 31 Mei 2011

MENOLONG


     Seorang teman saya bercerita kalo dia ingin menolong temannya yang sedang menghadapi problema. Menurut ceritanya, temannya tidak meminta pertolongan darinya, hanya saja dia mempunyai inisiatif untuk melakukan hal itu karena merasa temannya membutuhkan pertolongan. Setelah mendegar cerita teman saya itu, saya mulai berpikir … menarik sekali bisa memiliki inisiatif untuk menolong orang apalagi di zaman sekarang ini yang sebagian besar orang lebih banyak memikirkan kepentingannya sendiri. Menurut saya betapa hebatnya ada orang yang masih menyempatkan waktu untuk menolong orang lain tanpa diminta.

”KEPO”
   Satu hal yang menarik bagi saya adalah inisiatifnya untuk menolong itu tidak didasari oleh permohonan dari yang memiliki problem, tetapi dari dirinya sendiri. Kemudian saya jadi tertawa sendiri karena saya itu suka mengambil inisiatif sendiri tanpa menanyakan kepada yang bersangkutan, apakah perlu ditolong atau tidak.
Itulah terkadang ada teman saya yang mengatakan saya sok tahu. Dan selalu ingin tahu permasalahan orang dan mulai menguliahi mereka yang tak membutuhkan pertolongan. Tetepi terkadang saya memang orang yang tidak betah. Tidak betah melihat orang kok senang berenang bersama problema. Tidak betah mengapa orang itu apa-apa kok bilang tidak bisa, tidak mampu, meski tentu saya menyadari kemampuan orang tak sama … dan memang terkadang banyak orang yang seperti itu hanya karena malasnya.
   Dan saya orang paling tidak betah melihat orang yang selalu mengeluhkan problema yang dihadapinya. Kok, problema ga ada habis-habisnya, sampai kadang saya berpikir apa memang mereka itu suka kalau tidak menghabiskan problema supaya hidup menjadi semakin hidup? Maka, saya terkadang cepat bereaksi sebelum diminta. Sama seperti mulut cepat bicara sebelum otak berpikir lebih jernih dulu.
   Kemudian saya teringat cerita teman saya diatas. Saya Tanya, kok bisa ingin menolong padahal tidak dimintai pertolongan? Dia menjawab, “Kasihan, Mas” dia melanjutkan ceritanya. “Saya itu ingin orang itu bisa memiliki hidup yang baru. Saya sih enggak menghilangkan problema, kan itu bagian dari hidup ya, mas. Cuma saja, mengurangi kan bisa, sehingga hidupnya enggak sengsara. Ya … pengen nolong saja, mas.” Saya hanya diam mendengarkannya. “Kasihan, Mas”, sekali lagi dia berucap menutup jawaban dari pertanyaan saya.

TEPAT BUKAN SEKEDAR CEPAT
   Kasihan. Saya sendiri tidak tahu apakah kasihan itu ada derajatnya. Sama seseorang mengasihani saya, berarti dimata mereka keadaan saya sudah berat sehingga mereka sampai perlu menolong tanpa diminta. Tetapi permasalahannya, apakah yang mau ditolong merasa bahwa bahwa proble mereka yang dianggap orang lain berat itu memang berat buat mereka sendiri? Karena belum tentu juga sudut pandang saya sama dengan sudut pandang yang mau saya tolong.
   Hal ini sama seperti mengangkat satu gallon air, mungkin berat sekali untuk anak-anak dan saya yang manja, yanag apa-apa mengeluh, sedikit-sedikit mengeluh, sedikit-sedikt tak mampu padahal belum pernah mencobanya. Tetapi buat meraka yang terbiasa, maka satu gallon bukan sebuah permasalahan sama sekali. Saya merasa kasihan dengan mereka yang menyantap nasi putih dan ikan asin, atau telur semata atau nasi dengan kecap. Padahal buat mereka, itu mengenyangkan dan nikmatnya bukan main. Saya merasa mereka patut diberi bantuan karena saya terbiasa menyantap nasi, telur, kecap dan ikan asin dalam satu piring.
  Saya teringat saat diajak teman ke rumah jompo beberapa waktu lalu. Saya merasa treyuh dan langsung iba kepada seorang wanita tua yang sudah jompo dan buta. Saya terdiam dan berpikir tidakkah ia protes kepada Tuhan, melewati masa tua seperti ini, karena ia memang bercerita dikirim ke tempat itu karena keluarga yang tak bisa lagi mengawasinya. Dan tak hanya itu, ia pun tak bias melihat apa-apa. Saya langsung berinisiatif tanpa Tanya kana kiri untuk menolong. Tetapi saya keliru besar, karena di acara yang saya pikir akan penuh dengan air mata, wanita tua dan buta ini malah menjadi seorang yang menghibur saya yang utuh mata, telinga dan raganya. Ia bernyanyi saat seorang teman bermain gitar. Dan menggerakkan tangan dan badannya. Kami tertawa terhibur, padahal tujuannya adalah kami yang akan menghibur mereka.
   Ia tertawa dan mensyukuri semuanya. Buat dia, buta dan tinggal di rumah jompo bukan sebuah problem. Bagaimana bisa menjadi problem katanya. “Saya ini, nak, setiap pagi masih bisa nyanyi-nyanyi, jalan-jalan keliling. Teman saya itu sudah tidak bangun.” Saya teringat pulang dari tempat itu seperti patung rasanya. Kaku tak bisa bergerak karena saking malunya. Saya jarang dan sangat impulsive menolong dengan tanpa melihat kondisi orang yang saya tolong. Tentu, menolong adalah perbuatan baik. Tetapi apakah itu benar atau tepat baik waktu dan pelaksanaannya? Bisa jadi belum tentu. Harus tepat bukan sekedar cepat. Karena nanti saya malah ditertawai menolong orang yang saya anggap tidak kuat, ternyata kuatnya lebih dari saya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

untuk koment silakan bebas yang penting tidak mengandung SARA