Thursday, April 20, 2017

Ritual Kematian Masyarakat Jawa


Kematian memang selalu menjadi salah satu momen yang paling menyedihkan dalam setiap perjalanan hidup manusia. Tidak ada satupun cara yang bisa kita sebagai manusia lakukan untuk menghindari momen yang dianggap paling menyedihkan ini. Secara umum pada saat keluarga ataupun kerabat meninggal biasanya cukup hanya di doakan lalu dimakamkan. Namun beberapa suku di Indonesia mempunyai cara,langkah langkah,ritual,maupun adat istiadat yang dilakukan pada saat keluarga/kerabat terdekat meninggal.

Suku Jawa berasal dari Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Semua sendi kehidupan masyarakat suku Jawa tak pernah lepas dari adat istiadat nan memang sudah sangat dipercayai sejak dulu. Masyarakat Jawa dikenal memilki budaya yang sangat kental. Sampai era globalisasi saat ini pun adat istiadat masih kerap dijalankan dan ditaati oleh masyarakatnya. Adat istiadat disuku Jawa pun hampir terdapat di setiap momen momen kehidupan manusia. Semenjak dari kelahiran,ulangtahun,perkawinan,hingga kematian memilik adat istiadatnya.
Adat istiadat ini ialah sebuah budaya dan Norma nan telah turun temurun dilakukan oleh sebagian besar masyarakat jawa. Bahkan di masyarakat seakan terdapat keharusan buat melakukannya. Segala usaha akan dilakukan agar mereka bisa melaksanakan adat istiadat ini. Kebanyakan adat istiadat yang ada bersumber dari kepercayaan nenek moyang terdahulu dari masyarakat jawa dan tak bersumber dari agama terutama agama Islam sebagai agama yang banyak dipeluk oleh sebagian besar masyarakat jawa sekarang ini.

Ritual Kematian Masyarakat Jawa

Dalam pemahaman orang Jawa, bahwa nyawa orang yang telah mati itu sampai dengan waktu tertentu masih berada di sekeliling keluarganya. Ketika salah satu masyarakat suku Jawa meninggal, ritual adat istiadat pun tak lepas mengiringi. Ritual ini dimaksudkan agar orang yang meninggal dapat mendapatkan loka (surga) yang baik di akhirat. Oleh karena itu kita sering mendengar istilah selamatan yang dilakukan untuk orang yang telah meninggal. Masuknya agama islam disadari atau tidak disadari telah memberikan pengaruh yang sangat besar dalam ritual kematian yang dilakukan oleh masyarakat. Upacara kematian yang saat ini dilakukan oleh suku Jawa sangat dipengaruhi oleh agama yang dianutnya. Namun demikian rangkain pokok dari upacara/ ritual masih dipertahankan dan dilaksanakan, dalam pelaksanaanya ruh keagamaan masuk ke dalam tradisi tersebut. Ada pun disini saya hanya akan menulis upacara/ ritual pokok yang masih dilaksanakan sampai saat ini. Ritual sesajen saat ini sudah jarang ditemui di dalam tradisi upacara kematian suku Jawa, berikut upacara/ ritual/ atau adat istiadat suku Jawa dalam hal ini sudah terpengaruh agama islam  yang masih mudah dijumpai;

1.   Geblag atau selamatan setelah pemakaman. Ada juga yang menyebutnya Ngesur / Nyaur Tanah. Cara menentukannya dengan rumus jisarji dan harus dilaksanakan saat itu juga. Peringatan ini dilakukan dengan kenduri dengan mengundang kerabat dan tetangga terdekat.

2.  Telung dina (Tiga hari) samapai dengan Pitung dina (Tujuh hari)
Upacara ini merupakan upacara kematian yang diselenggarakan untuk memperingati tiga hari meninggalnya seseorang. Peringatan ini dilakukan dengan kenduri dengan mengundang kerabat dan tetangga terdekat. Dalam tradisi aslinya cukup rumit, namun disini hanya akan dibahas oleh tradisi yang telah berasimilasi dengan agama islam. Dalam tradisi yang masih berlangsung saat ini semenjak dari hari meninggalnya anggota keluarga, selama tujuh hari berturut-turun keluarga yang ditinggalkan akan melaksanakan selamatan. Selamatan yang dilakukan biasanya dengan membaca Surat Yasin dan Tahlil. Pembacaan Surat Yasin dan Tahlil dilakukan oleh kerabat dan tetangga. Pada hari ke tiga dan ke tujuh dilakukan kenduri, pada hari ke tiga dan ke tujuh ini selain ada bacaan Surat Yasin dan Tahlil juga ada doa khusus. Pada selamatan telung dina (tiga hari) dan pitung dina (tujuh hari) dengan menyediakan tumpeng lengkap dengan ingkung (ayam yang dimasak secara utuh) dan dilengkapi dengan lauk pauk. Setelah tumpeng dan kelengkapannya di bacakan doa kemudian tumpeng dan kelengkapannya dibagikan kepada orang-orang yang hadir untuk dibawa pulang.

3.   Matang Puluh ( Empat Puluh Hari )
Upacara ini untuk memperingati empat puluh hari meninggalnya seseorang. Biasanya peringatannya dilakukan dengan kenduri. Seperti halnya telung dina dan pitung dina, rangkaian acaranya dengan membaca Surat Yasin dan Tahlil, baru kemudian kenduri.

4.   Nyatus (Seratus Hari)
Upacara ini untuk memperingati seratus hari meninggalnya seseorang. Tata cara yang digunakan untuk memperingati seratus hari meninggalnya pada dasarnya sama dengan ketika melakukan peringatan empat puluh hari.

5.   Mendhak Pisan (Setahun Pertama)
Upacara mendhak pisan merupakan upacara yang diselenggarakan ketika orang meninggal pada setahun pertama. Tata cara yang digunakan untuk memperingati mendak pisan (setahun pertama) pada dasarnya sama dengan ketika melakukan peringatan seratus hari. Namun yang perlu diingat hitungan setahun bukan berdasarkan kalender Masehi, karena orang Jawa mempunyai kalender dan perhitungan sendiri. Ada rumus untuk menentukan hari selamatan/ peringatannya.

6.   Mendhak Pindo (Selamatan setelah dua tahun)
Upacara mendhak pindo merupakan upacara yang diselenggarakan untuk selamatan dua tahunnya orang meninggal. Tata cara yang digunakan untuk memperingati mendak pindo pada dasarnya sama dengan ketika melakukan peringatan/ selamatan mendhak pisan. Lagi-lagi disini hitungan bukan berdasarkan kalender Masehi, ada rumus untuk menentukan hari selamatan/ peringatannya.

7.   Nyewu atau  Nguwisi (Seribu hari atau selesai)
Nyewu atau  Nguwisi  merupakan selamatan setelah seribu hari kematian, atau kurang lebih tiga tahun meninggalnya. Pada selamatan nyewu ini juga sebagai penutup peringatan/ selamatan dalam uoacara kematian adat Jawa.  Tujuannya selamatan itu, karena telah sempurnanya jasad manusia termasuk bau dan rasanya. Sehingga manusia yang meninggal itu telah menyatu dengan tanah yang merupakan asal muasalnya. Secara umum cara pelaksanaannya sama dengan selamatan yang lain. Untuk memudahkan dalam menentukan hari selamatan orang Jawa menggunakan rumus perhitungan yang berdasarkan pada neptu (hari) dan weton (pasaran). Sistem perhitungan hari dan pasaran akan dibahas lain waktu.

No comments:

Post a Comment

untuk koment silakan bebas yang penting tidak mengandung SARA